preloader

Antara Gubernur Terbodoh dan Banjir Jakarta

Jan 17, 2020

Surprise!

 

Sekarang mesin pencari Google berhasil mengidentifikasi Pak Anies Baswedan sebagai ‘gubernur terbodoh’ per awal Januari 2020. Ternyata sekarang bukan cuma manusia yang bisa menghakimi orang lain ya. Mesin pencari juga udah jago nyinyirin orang lain.

 

Eits, jangan ketrigger dulu!

 

Padahal, mesin pencari kaum millenial ini hanya menjalankan tugasnya sesuai dengan algoritma yang tertulis. Pada saat orang mengetik “Gubernur Terbodoh” di kolom pencarian, mesin ini mencari informasi relevan yang terkait dengan kata kunci tersebut. Pencarian ini didasari oleh kemunculan kata kunci di berbagai artikel terkini yang diunggah ke internet.

 

Emangnya, artikel terkini apa aja yang terunggah sehingga Google menyimpulkan hasil pencariannya dengan gubernur ibukota kita? Wah, macem-macem. Mulai dari artikel opini tentang ketidakpuasan sang penulis ke bapak gubernur, hingga petisi untuk menurunkan mantan Menteri Pendidikan ini. Bahkan artikel positif tentang jerih payah Pak Anies saat kerja bakti mengatasi banjir pun dianggap sebagai artikel bayaran oleh para netizen. Ga paham lagi sama skill nyinyirnya sang kaum rebahan.

 

--

 

Sekarang tanda tanya terbesar di kepala kita semua adalah: apakah Pak Anies Baswedan beneran ‘gubernur terbodoh’? Ini rada subjektif, tapi tentunya mesin pencari seperti Google tidak bisa memastikan jawaban dari pertanyaan ini.

 

Kalau kita kaitkan pertanyaan tadi dengan banjir Jakarta di awal tahun ini, apakah kita bisa menyimpulkan bahwa beliau dengan kata kunci tersebut? Lagi-lagi, ini subjektif. Semua kembali ke opini dari masing-masing orang. Tapi kita bisa telusuri fakta-faktanya.

 

Pertama-tama, curah hujan di Jakarta pada menjelang tahun baru 2020 merupakan curah hujan tertinggi sejak tahun 1866, yaitu 377mm/hari. Dengan curah hujan seperti ini, air akan menggenangi permukaan yang tidak menyerap air sampai setinggi betis apabila hujan berlangsung seharian penuh. Faktanya, sedikit permukaan tanah di Jakarta yang dapat menyerap air karena kota ini penuh dengan gedung dan bangunan, dan badai yang menghadang Jakarta berlangsung dari sampai tiga hari berturut-turut. Ga heran kalo banjir kali ini ngelunjak.

 

Yang kedua, kondisi geografis Jakarta itu sangat mendukung adanya banjir tiap musim hujan. Itu karena lokasinya yang di dataran bawah, sehingga menjadi tujuan akhir air yang mengalir dari daerah hulu, seperti Katulampa. Selain itu, Jakarta juga dikategorikan sebagai dataran banjir, karena elevasinya yang rendah (7.92mdpl) dan dikelilingi oleh berbagai sungai.

 

Jadi, apakah banjir yang memakan 60 korban jiwa ini merupakan hasil dari kebodohan Pak Gubernur? Kan faktanya emang banyak faktor yang membuat Jakarta banjir parah kaya sekarang?

 

--

 

Oh iya, ada satu hal ketinggalan. Tau ga, kalau Tokyo juga merupakan kota dataran banjir dengan curah hujan rata-rata yang ga jauh sama Jakarta? Iya, ibukota negara yang terkenal sangat maju itu! Curah hujan rata-rata Jakarta mencapai 146.3mm per bulan, kalau Tokyo sekitar 127.5mm per bulan. Iya, walaupun lebih tinggi Jakarta, tapi ga terlalu jauh beda. Di tambah kondisi geografi Tokyo yang tidak jauh beda dengan Jakarta. Hal ini membuat ibukota Jepang ini menjadi kota rawan banjir, persis kayak Jakarta.

 

Tapi kok Tokyo terdengar jarang banjir ya, padahal badai dan angin puyuh merupakan hal yang lumrah dijumpai setiap tahunnya? Itu karena kota ini sangat serius menangani permasalahan banjir yang selalu menghantui warganya. Coba bayangin, Tokyo punya lima tempat penampungan air banjir bawah tanah berkapastias 706 ribu liter yang tersambung dengan satu penampungan air lagi yang berkapasitas 248 juta liter. Semua air yang ditampung ini akan disedot ke sungai besar (sungai Edo) yang mengalirkan air ke laut.

 

Hasilnya? 72 hektar daerah Tokyo sudah tidak lagi mengalami bencana musiman ini. Keren gasih? Itu nyaris setara dengan 100 stadiun Gelora Bung Karno!!

 

--

 

Nah, kita kembali lagi ke pertanyaan utama. Jadi Pak Anies Baswedan adalah ‘gubernur terbodoh’ menurut Google? Kembali lagi ya, jawabannya sangat subjektif, tergantung dengan pribadi masing-masing.

 

Kalau direka ulang, Pak Gubernur satu ini punya ide yang keren saat pilgub kemarin. Beliau mengusul untuk adanya drainase vertikal yang konsepnya serupa dengan Tokyo ini. Intinya, air disimpan di bawah tanah untuk mencegah banjir.

 

Jadi, bapak gubernur ibukota kita pintar kan? Tetap saja, jawabannya subjektif. Sebaik-baiknya program kerja adalah program yang terlaksana. Namun perlu diingat pula bahwa pekerjaan sebagai gubernur bukan pekerjaan yang enteng.

 

--

 

Jadi menurut kamu, hasil pencarian yang viral ini akurat atau tidak?