preloader

Predator Seksual dan RUU PKS Yang Tertunda

Jan 21, 2020

Katakanlah ada seorang predator seksual bernama Reynaga Sinhard (tokoh fiktif).

 

Reynaga ini mengikuti jejak karir saudara jauhnya, Reynhard Sinaga (bukan fiktif), yaitu menjadi predator seksual. Namun berbeda dengan sang tokoh asli yang beroperasi di Inggris, Sinhard membuka cabang usaha bejatnya di Indonesia.

 

Dengan memegang prinsip ‘Dunia: semakin hari semakin jahat’, mereka telah mengubah hidup banyak orang dengan merendahkan harkat dan martabatnya. Ya gimana ngga, penjahat ini tidak hanya membius dan memperkosa, tapi juga merekam aksi bejat itu. Gokil. Pantes Reynhard disebut “The Most Prolific Rapist in Britain”

 

Setelah 2.5 tahun melecehkan ratusan laki-laki dewasa, para kriminal ini akhirnya ditangkap polisi dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan. Reynhard telah dibebankan hukuman penjara seumur hidup (lifetime imprisonment). Bahkan, beberapa penegak hukum mengonsiderasikan hukuman whole-life order kepada Reynhard supaya predator ini tidak memiliki celah untuk bebas dari penjara. Intinya, Reynhard sudah aman di tangan yang berwenang berkat hukum Inggris yang tegas terhadap kasus pemerkosaan.

 

--

 

Lalu, apa kabar dengan Reynaga yang melakukan kejahatan serupa di Indonesia?

 

Sama nasib dengan saudara jauhnya, Reynaga ditangkap dan diamankan oleh polisi. Beda nasib dengan saudara jauhnya, Reynaga tidak diberikan hukuman seumur hidup.

 

Hah? Kenapa??

 

Sederhana tapi miris sih. Karena hukum di Indonesia tidak sama dengan hukum di Inggris yang mampu menghukum berat sang pemerkosa.

 

Menurut Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) pasal 109, Reynaga hanya akan ditindak pidana minimal 8 tahun dan maksimal 16 tahun penjara. Coba bayangin, hukuman 16 tahun dan hukuman seumur hidup. Paham kan perbedaannya?

 

Tapi kabar baik untuk Reynaga adalah, RUU PKS kemarin kan ngga jadi disahkan!

 

Artinya apa? Artinya, Reynaga tidak akan ditindak pidana penjara dengan durasi demikian karena pasal tersebut belum sah.

 

Lalu apa yang sah? Yang sah adalah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) peninggalan jaman Belanda sejak tahun 1915. Di peraturan kuno ini, dinyatakan dalam pasal 290 bahwa hukuman setimpal versi negara +62 adalah hukuman penjara maksimal 7 tahun.

 

Iya, maksimal 7 tahun. Bisa aja hukumannya cuma beberapa bulan. Apalagi negara ini masih punya stereotip negatif tentang korban pemerkosaan. Kalo menurut hakim bahwa korban Reynaga salah karena mabok di club malam, bisa jadi hukuman yang dibebankan kepada predator ini cuma enam bulan saja. Who knows?

 

--

 

Apa segitu sudah cukup parah? Oh tentu tidak!

 

Di KUHP pasal 63, bahkan di RKUHP pasal 125, dinyatakan bahwa dalam kasus pelanggaran lebih dari satu aturan, maka hukuman yang diberlakukan hanya hukuman yang terberat saja.

 

Jadi, hukum ga peduli kalo Reynaga membius, memperkosa, merekam, bahkan menyakiti ratusan orang di Indonesia. Intinya, hukuman yang berlaku pada saat ini hanyalah maksimal 7 tahun penjara.

 

Coba bayangin, betapa bahagianya seorang Reynaga kalau kejahatannya dilakukan di Indonesia? Hanya ada satu hal yang bisa kita syukuri, yaitu bahwa Reynaga ini adalah tokoh fiktif dan belum ada kasus pemerkosaan berskala semasif Reynhard di negara kita.

 

Ya jangan sampe ada lah. Secara hukum, negara ini belum siap menghadapi seorang ‘Reynaga Sinhard’.

 

--

 

Nah, sekarang paham kan betapa pentingnya RUU PKS yang kemarin sempat tertunda?